The Legend : Singapura Dilanggar Todak


Singapura dilanggar todak adalah sebuah cerita dongeng orang Melayu yang paling terkenal khususnya di Singapura. Pada masa dahulu ada seorang  ulama dari negeri Pasai (Aceh - Indonesia : pen) bernama Tun Jana Khatib datang ke Singapura untuk mencari kehidupan baru disamping berdagang.Tun Jana Khatib sendiri berasal dari Arab yang menyiarkan Agama Islam di Aceh.

Kutukan Tun Jana Khatib 

Di Singapura dia sangat disegani oleh rakyat karena sikapnya yang lemah lembut dan berbudi bahasa.Dia juga  melakukan kerja-kerja sosial dengan penduduk setempat.

Pada suatu hari Tun Jana Khatib berjalan disamping istana Raja. Pemaisuri baginda saat itu melihat Tun Jana Khatib sedang berdiri menatap sebatang pohon pinang. Tun Jana Khatib menerung mata lalu menempelkan tangan ke batang pinang. Ajaib! seketika batang pinang terbelah dua lalu rubuh ke tanah! Pemaisuri terkejut melihat keajaiban itu. Kemudian Tun Jana Khatib berjalan meninggalkan sisi istana. Baginda Raja bertanya kepada Pemaisuri tentang apa yang terjadi dan ia terkejut melihat pohon pinang yang sudah terbelah dua.

Film Singapura dilanggar Todak 1961

Raja lalu memerintahkan punggawa agar mencari tahu siapakah orang sakti itu. Setelah mengetahui bahwa itu adalah seorang arif dari Pasai. Raja menjadi khawatir dan murka , ia memerintahkan supaya Tun Jana Khatib ditangkap dan dihukum mati di Hujung Pasar (sekarang disebut Kampung Gelam). Lalu ditangkaplah sang arif itu, ketika ia ditangkap dan akan dihukum mati maka, ia pun bersumpah:

 "Hai kamu semua! ketahuilah kamu semua. Aku relakan kematian ini! Tetapi raja yang zalim itu tidak akan terlepas begitu sahaja. Dia akan membayar harga keatas kezaliman itu... Dan percayalah Singapura ini akan huru hara!(Rusuh:Pen) akan ditimpa malapetaka yang dahsyat!" Lalu sebilah keris ditikam ke tubuh Tun Jana Khatib! akhirnya dia tersungkur jatuh ke tanah dan tewas.

Namun saat jenazah Tun Jana Khatib akan dibawa ke tanah perkuburan, terjadi keanehan . Tubuhnya tiba-tiba ghaib, menghilang! hanya menyisakan darah ditanah .Ke mana jasadnya pergi?

Tak lama kemudian ribut petir melanda Singapura, dengan suara suara menggelegar kuat dari langit. Orang orang yang menyaksikan berlarian menyelamatkan diri , sebagian pergi ke Hujung Pasar untuk mencari tahu apa yang terjadi. Mereka mulai gempar sebab darah Tun Jana Khatib tadi telah berubah menjadi batu. Sementara itu dilain tempat, penduduk di Langkawi heboh keheranan karena menemukan sesosok mayat terbaring di tepi pantai . Itu adalah jasad Tun Jana Khatib yang kemudian dikebumikan di sebuah tanah perkuburan yang disebut Makam Purba.

Dan dari peristiwa itu tertulislah sebuah pantun untuk mengenang kesaktian Tun Jana Khatib :

  • Telur itik di Singgora,
  • Pandan terletak dilangkahi; 
  • Darah titik di Singapura,
  • Badannya terhantar di Langkawi. 

Setelah kejadian itu berlalu. Pada suatu pagi , ketika para nelayan mulai pergi ke pantai untuk menangkap ikan, tapi nelayan yang ada di pantai justeru berlarian menjauhi pantai. Apa yang terjadi? ternyata ratusan ikan todak mulai menyerang nelayan Singapura. Mereka yang dipantai dan tak sempat berlari  mati tertusuk ikan Todak, dimana mana banyak mayat bergelimpangan tewas karena serangan ini. Ikan todak yang jumlahnya ratusan melesat bagai panah menusuk siapapun yang berada ditepian pantai atau dilaut.

Peristiwa itu mengejutkan Raja kerana banyak rakyatnya telah terkorban. Raja Singapura segera memerintahkan pengawalnya untuk menyediakan seekor gajah tunggangan dan bergerak menuju ke tempat kejadian.

Raja pun tiba di pantai (Tanjong Pagar), dia melihat begitu banyak mayat bergelimpangan, Raja bingung. Dalam kebingungannya Raja mengarahkan rakyatnya agar membuat pagar betis, dalam arti sebenarnya yaitu dengan menjejerkan orang orang di tepi pantai untuk dijadikan tameng melawan todak!. Namun usahanya gagal. Seorang demi seorang mati diterjang todak. Semua orang takut, putus asa dan hanya bisa patuh kerana  takut dimurkai oleh Raja lalu dianggap sebagai pendurhaka kepada raja. 

Hang Nadim nan Cerdik


Lalu datanglah seorang anak kecil yang masih berusia 10 tahun nan cerdik bernama Hang Nadim. Dia datang menghadap Raja yang berdiri menatap pantai. Hang Nadim menyarankan agar memagari pantai dengan batang pisang. Ide ini lalu diterima Raja dan memerintahkan rakyatnya segera mengumpulkan batang pisang dan membuat pagar. Rakyat bersorak gembira meyambut ide ini dan segera pergi ke kebun kebun mengambil batang pisang. Maka dibuatlah jejeran batang pisang menyerupai benteng pagar penahan serangan. 

Tidak lama kemudian benar terjadi serangan. Ikan todak dalam jumlah besar menyerang kembali .Ikan ikan itu melesat menyerang dan menancap pada batang pisang. Rakyat Singapura yang melihat kejadian itu menyambut dengan penuh kegembiraan. Ikan todak berhenti menyerang,  orang orang mulai membersihkan pantai dari ikan todak yang terjebak dibatang pisang. Singapura akhirnya bebas dari serangan ikan todak. Baginda Raja memuji kejayaan Hang Nadim mengalahkan ikan todak lalu baginda mengundang Hang Nadim ke istana untuk menerima Anugerah Raja.

Sementara itu di istana, kebanyakan pembesar tidak suka dengan Hang Nadim karena kecilnya saja sudah pintar, pikir mereka anak ini bila sudah besar nanti tentu akan merebut kekuasaan Raja dan akan memerintah Singapura. Mereka menghasut Raja. Dan Raja termakan hasutan itu, ia memerintahkan pembesar supaya membatalkan istiadat penganugerahan dan diganti dengan perlaksanaan hukuman mati. 

Di lain tempat, Hang Nadim mengucap salam ke atas ibunya, Hang Nadim akan pergi ke istana untuk menghadiri istiadat penganugerahan , dia tidak tahu telah dikhianati Raja. Ketika ia tiba di istana, ada yang tidak beres, ia ditangkap pengawal kerajaan. Keadaan menjadi tegang apabila dia bukannya dibawa ke balai penghadapan tetapi diseret ke tengah halaman. Tanpa menunda waktu lagi, baginda memberikan petanda supaya melaksanakan hukuman mati ke atas Hang Nadim. Anak kecil itu menjerit kesakitan , ia ditusuk oleh sebilah keris lalu tewas bersimbah darah.

Demikian kisah Tun Jana Khatib dan Hang Nadim yang memicu Legenda Singapura dilanda todak.

Namun tradisi lisan  Melayu Kepulauan Riau menceritakan ending yang berbeda. Hang Nadim ditangkap, tubuhnya rantai dan ditenggelamkan di Selatan Selat Singapura pada malam hari, dilokasi bernama Batu Berantai yang disebut juga Batu Berhanti pada saat ini. 

Jejak Cerita:

Jalan Khatib dan Kampung Khatib di Singapura - mengambil nama Tun Jana Khatib dari Pasai/Aceh. 
Hujung Pasar sekarang disebut Kampung Gelam Singapura - tempat hukuman mati Tun Jana Khatib dijalankan.
Tanjong Pagar Singapura - lokasi yang dulunya pantai nelayan
Batu Berhanti Indonesia - tempat Hang Nadim di tenggelamkan.

Nama asli Singapura ialah Pulau Ujong, - maksudnya 'pulau di ujung semenanjung'. Nama tersebut diberikan oleh Suku Orang Laut yang merupakan penduduk pribumi pulau tersebut. Suku Orang Laut menetap di pulau pulau kecil seputar Kepulauan Riau, Indonesia. Setelah Pulau Ujong dijajah Majapahit, namanya  berubah menjadi Temasek/Tumasek (Bandar Laut). Kemudian dikenal sebagai Singapura (Kota Singa) setelah Sang Nila Utama dan para pengikutnya mendarat di pulau tersebut.

Komentar

Postingan Populer