Maaf, Blog Sedang Dalam Perbaikan

Jumat, 27 Januari 2012

Mengenang Kisah Heroik 31 Tahun Yang Lalu, Tenggelamnya Kapal Tampomas II

Sebuah tragedi pilu yang tidak akan pernah terlupakan, tenggelamnya kapal Tampomas II juga menyisakan sebuah kisah heroik sang Kapten.

Api menjalar dari sebuah kapal
Jerit ketakutan keras melebihi
Gemuruh gelombang yang datang
Sejuta lumba-lumba mengawasi cemas
Risau camar membawa kabar Tampomas terbakar
Risau camar memberi saran Tampomas Dua tenggelam

Syair di atas merupakan penggalan lagu dari Iwan Fals yang berjudul Celoteh Camar Tolol dan Cemar dari album Sumbang menggambarkan tragedi tenggelamnya kapal motor penumpang KMP Tampomas II milik PT. PELNI yang cukup tragis di sekitar Kepulauan Masalembo (114°25′60″BT — 5°30′0″LS) Laut Jawa (termasuk ke dalam wilayah administratif provinsi Jawa Timur). 

KM Tampomas II terbakar di laut dan karam pada tanggal 27 Januari 1981, merenggut ratusan nyawa penumpangnya.

KM Tampomas II milik Pelni ini baru melakukan pelayaran perdananya pada bulan Mei 1980. Tapi bukan berarti ini kapal baru.

KM Tampomas II dengan bobot mati 2420 ton dan mampu mengangkut penumpang 1250 sampai 1500 orang ini adalah kapal bekas yang dibeli oleh PT. PANN (Pengembangan Armada Niaga Nasional, BUMN) dari Komodo Marine Jepang. 

Dan PT. Pelni membeli secara mengangsur selama sepuluh tahun kepada PT. PANN. Kapal ini sebelumnya bernama MV. Great Emerald dibuat di Jepang tahun 1956 dan dimodifikasi tahun 1971

Dibeli dengan harga 8.3 juta dollar AS, yang menurut beberapa pihak terlalu mahal untuk sebuah kapal bekas yang sudah berusia sepuluh tahun. 

Begitu dioperasikan, kapal penumpang ini langsung digeber abis untuk melayani jalur Jakarta-Padang dan Jakarta-Ujung Pandang yang memang padat. Setiap selesai pelayaran, kabarnya kapal ini hanya diberi waktu istirahat 4 jam saja dan harus siap untuk pelayaran berikutnya. Perbaikan dan perawatan rutin terhadap mesin dan perlengkapan kapal pun cuma bisa dilaksanakan sekedarnya, padahal mengingat usianya kapal ini butuh perawatan yang jauh lebih cermat.
Tampomas II berlayar dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta  hari Sabtu. 24 Januari 1981 pukul 19.00 menuju Sulawesi dengan membawa 191 kendaraan roda empat, sekitar 200-an sepeda motor dan 1054 penumpang terdaftar serta 82 kru kapal. 

Perkiraan mengatakan total manusia di kapal tersebut adalah 1442 orang (perkiraan tambahan penumpang gelap). Bahkan koki kapal yang selamat mengaku diperintahkan atasannya agar memasak untuk 2000 orang. 

Dalam kondisi badai laut di malam hari tanggal 25 Januari 1981, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, diduga percikan api timbul dari puntung rokok yang melalui kipas ventilasi yang menjadi penyebab kebakaran. Para kru melihat dan gagal memadamkannya dengan tabung pemadam kebakaran portable. 

Api menjalar ke dek lain yang berisi muatan yang mudah terbakar, asap menjalar melalui jalur ventilasi dan tidak berhasil ditutup. Api semakin menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka. Selama dua jam tenaga utama mati, generator darurat pun gagal dan usaha memadamkan api seterusnya sudah tidak mungkin.

Tiga puluh menit setelah api muncul para penumpang diperintahkan untuk segera menaiki sekoci, hal ini pun sangat lambat sebab hanya satu jalan bagi penumpang untuk diturunkan ke sekoci. Sebagian penumpang terjun bebas ke laut menghindari kobaran api, sebagian lagi menunggu di dek dan panik menunggu pertolongan selanjutnya. 

Syahbandar Pelabuhan Ujung Pandang mendapat berita dari KM Wayabula meneruskan informasi dari KM Sangihe yang tengah melakukan evakuasi bahwa Tampomas II terbakar di kepulauan Masalembo sekitar 220 mil dari Ujung Pandang. Ombak besar setinggi 7 – 10 meter dan angin kencang 10 – 15 knot menyulitkan penyelamatan sehingga KM Sangihe hanya dapat memindahkan 149 penumpang Tampomas II ke kapalnya. 

Saat kapal sudah mulai miring, Capt. Abdul Rivai (Nahkoda Kapal) masih tampak sibuk membagikan pelampung ke para penumpang yang tidak berani terjun ke laut. Bahkan di detik2 terakhir saat kapal mulai tenggelam, Capt. Abdul Rivai masih terlihat berada di anjungan kapal sambil berpegangan pada kusen jendela.

Kapal Tampomas II miring lalu tenggelam perlahan lahan

Di tanggal 26 Januari Laut Jawa mengalami hujan deras, api menjalar ke ruang mesin di mana terdapat ruang bahan bakar yang tidak terisolasi. Pagi hari 27 Januari terjadi ledakan dan membuat air laut masuk ke ruang mesin (ruang propeler dan ruang generator terisi air laut), yang membuat kapal menjadi miring 45° dan tenggelam 30 jam sejak percikan api pertama menjalar.

Kapal-kapal lain yang berada di sekitar lokasi, KM Sangihe, KM Adiguna Kurnia, KM Istana VI, KM Ilmamui, KM Niaga XXIX, dan beberapa kapal lain berusaha semampunya untuk menyelamatkan penumpang Tampomas II yang terapung-apung di laut setelah melompat dari kapal.

Sampai tanggal 29 Januari tim SaR gagal melakukan pencarian karena besarnya badai laut, dan 5 hari kemudian 80 orang yang selamat dalam sekoci ditemukan 150Km dari lokasi kejadian karamnya Tampomas. Estimasi tim menyebutkan 431 tewas (143 ditemukan mayatnya dan 288 hilang/karam bersama kapal) dan 753 berhasil diselamatkan. Sumber lain (pemerintah?) menyebutkan 666 tewas.

Berbagai cerita tragis dari penumpang yang selamat pun dituturkan. Ada seorang ibu yang terjun ke laut dengan anaknya yang masih bayi. Ketika tahu bayinya tak bernyawa lagi, ia pun tidak berusaha mengapung lagi membiarkan dirinya tenggelam. Tapi ketika ingat anaknya yang lebih besar masih hidup, ia tersadar dan berusaha tetap hidup. 

Lantai geladak luar kapal yang hanya terbuat dari plat baja tanpa pelapis kayu juga banyak memakan korban. Banyak penumpang panik yang tidak memakai alas kaki menjadi korban plat panas yang sedang terbakar itu. Proses penyelamatan yang lambat dan berlangsung selama 37 jam hingga kapal tenggelam membuat penumpang yang bertahan di geladak kapal harus bertahan tanpa makanan dan minuman. 

Dropping makanan dari udara tidak semuanya tepat pada lokasi penumpang.
Penumpang yang sempat menaiki sekoci penyelamat ternyata juga harus menjalani penderitaan. Selama 5 hari mereka terapung-apung di lautan di atas sekoci bersama sekitar 80-100 orang lainnya tanpa makanan. Sekoci yang kelebihan muatan itu bahkan sempat terbalik. Ketika berhasil dikembalikan ke posisi semula hanya tersisa 70 orang. Pada hari kelima barulah mereka menemukan daratan yaitu pulau Doang-doangan Sulawesi Selatan. Sesampai di darat 2 orang menghembuskan nafas terakhir.


Tak ada pejabat yang bertanggung jawab, semuanya berujung dengan kesalahan awak kapal. Hasil penyidikan Kejaksaan Agung yang menugaskan Bob Rusli Efendi Nasution sebagai Kepala Tim Perkara pun tidak ada tuntutan kepada pejabat yang saat itu memerintah. Skandal ini kemudian ditutup-tutupi oleh pemerintahan Suharto, kendati banyak tuntutan pengusutan dari sebagian anggota parlemen. 

Dalam suatu acara dengar pendapat yang diadakan oleh DPR-RI tentang kasus ini, Menteri Perhubungan menolak permintaan para wakil rakyat untuk menunjukkan laporan Bank Dunia yang merinci pembelian kapal bekas seharga US$8.5juta itu. Makelar kapal Tampomas II — Gregorius Hendra yang mengatur kontrak pembelian antara Jepang dan pemerintah Indonesia itu juga lepas dari tuntutan Kejaksaan Agung.

Semoga saja kejadian seperti ini tidak terjadi lagi dan seluruh rakyat Indonesia dapat berpergian tanpa kekhawatiran timbulnya musibah yang dapat merenggut nyawa mereka-mereka yang tidak tahu apa-apa.

Costa Concordia dan Tampomas II, Antara Kepengecutan dan Kepahlawanan


Costa Concordia dan Titanic

Ketika berita karamnya Kapal Costa Concordia menjadi headline di media cetak lengkap dengan fotonya, seketika ingatan kita tertumbuk kembali pada tragedi kapal Titanic pada tahun 1912. Foto pada headline berita begitu mirip dengan gambaran tragedi Titanic pada film Titanic.




Kisah Mengharukan

Kemudian ketika diberitakan adanya kisah mengharukan ketika karamnya kapal Concordia, lagi-lagi ingatan kita kembali tertaut pada kisah cinta pada film Titanic tersebut. Meskipun film Titanic hanya sebuah fiksi, tapi saya yakin kisah yang mengharukan pasti terjadi diantara kepanikan, kepasrahan maupun perjuangan menghadapi maut kala itu.

Salah satu kisah yang mengharukan dialami oleh Nicole Servel, 60. Kisahnya dalam drama penyelamatan tersebut hampir mirip dengan pengorbanan Jack Dawson demi menyelamatkan Rose DeWitt Bukater dalam film Titanic.

Dia mengisahkan suaminya berkorban nyawa demi menyelamatkan dirinya. Suaminya, Francis, memberikan satu-satunya jaket penyelamat kepada servel sebelum kapal itu karam. “Suami saya menyuruh ‘Lompat, lompat!’, dan menambahkan ‘Jangan cemas, aku akan baik-baik saja’ pada saya,” tutur Nicole. Naas, suaminya tidak pernah terlihat lagi semenjak itu.

Liburan yang seharusnya menyenangkan hadiah dari anak-anak mereka harus berakhir menyedihkan hilangnya Francis. Dia termasuk dalam 29 orang hilang yang masih terus dicari oleh tim penyelamat di kapal Concordia dekat pulau Giglio Italia.

Costa Concordia vs Tampomas II 
(Kapten Francesco Schettino vs Kapten Abdul Rivai)

Tapi ketika muncul berita tentang kapten kapal Concordia yang berjiwa pengecut, justru saya teringat akan cerita yang sebaliknya, yaitu ketika tenggelamnya kapal Tampomas II, yang melahirkan sosok pahlawan Kapten Abdul Rivai.

Francesco Schettino sebagai kapten Costa Concordia telah bertindak ceroboh, bahkan boleh dibilang pengecut. Hal yang tidak selayaknya disandang oleh seorang kapten kapal, yang semestinya bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan kapal dan penumpangnya. Beberapa kesalahannya sebagaimana dilansir beberapa media :

Sebagaimana kesaksian Monique Maurek (41) salah seorang penumpang, ia terlihat minum-minum di bar dan bermesaraan dengan seorang wanita tak lama sebelum kecelakaan terjadi.

Ia menambahkan, tidak ada peringatan atau arahan mengenai evakuasi ketika kecelakaan bermula.
Kapten kapal Costa Francesco Schettino terlihat terburu-buru meninggalkan kapal sesaat sebelum kapal itu karam. Schettino bahkan juga diduga mengabaikan keselamatan ribuan penumpang saat kapalnya keceakaan, termasuk mayoritas anak-anak dan perempuan.

Schettino bahkan mengabaikan perintah ketika polisi meminta sang kapten ke kapalnya untuk tetap bertugas menyelamatkan para penumpang hingga proses evakuasi selesai. Apalagi, mayorits perempuan dan anak-anak belum dievakuasi dari kapal.

Ulah kapten Costa Concordia ini sangat bertolak belakang dengan sikap kepahlawanan yang telah ditunjukkan oleh nahkoda kapal Tampomas II Kapten Abdul Rivai. Berikut kisah-kisah heroik sang kapten tersebut:

Dalam keterbatasannya, dialah yang paling sibuk menyelamatkan penumpang lain tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, saat ABK lain malah menyelamatkan diri pada saat-saat awal.
Saat kapal sudah mulai miring, Kapten Abdul Rivai masih tampak sibuk membagikan pelampung ke para penumpang yang tidak berani terjun ke laut.

Bahkan pada detik-detik terakhir saat kapal mulai tenggelam, Kapten Abdul Rivai masih terlihat  di anjungan kapal sambil berpegangan pada kusen jendela. Benar-benar seorang kapten kapal yang memegang teguh janjinya untuk menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal saat terjadi bencana.

Namun malangnya, jenazah Kapten Abdul Rivai sempat dikuburkan sebagai orang tak dikenal. Untunglah dari tim penyelamat ada yang teringat akan cincin bertuliskan nama Hasanah, istri Kapten Abdul Rivai, yang dikenakan salah satu jenazah tak dikenal. Jasad Kapten Abdul Rivai akhirnya dimakamkan kembali di taman makam pahlawan Kalibata Jakarta.

Untuk memberikan gambaran visual tentang saat-saat tragedi dua kapal tersebut, berikut saya tampilkan foto-foto karamnya kapal Costa Concordia:

Foto karamnya kapal Costa Concordia

Bandingkan dengan foto hitam putih tragedi tenggelamnya kapal Tampomas II. Foto hitam putih ini tentunya sekaligus menggambarkan tingkat kesulitan yang dihadapi Kapten Abdul Rivai jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Kapten Schettino, karena teknologi yang tidak secanggih sekarang.

Foto hitam putih tragedi tenggelamnya kapal Tampomas II

Dan sekarang kita bandingkan foto kedua kapten tersebut:

Penghargaan untuk Kapten Abdul Rivai

Pengorbanan heroik Kapten Abdul Rivai ini memberikan inspirasi kepada penyanyi dan penulis lagu terkenal Ebiet G. Ade untuk menulis sebuah lagu yang didedikasikan kepada sang Kapten. Dikemas dalam album kelima Ebiet G. Ade yang diluncurkan di tahun 1982 bertajuk “Langkah Berikutnya”. Lagu itu berjudul “Sebuah Tragedi 1981″.
Album Ebiet G. Ade
Lirik Lagu Ebiet G. Ade 

”Sebuah Tragedi 1981″ :

Dia nampak tegah berdiri, gagah perkasa
Berteriak tegas dan lantang, ia nakhoda
Sebentar gelap hendak turun
Asap tebal rapat mengurung
Jeritan yang panjang, rintihan yang dalam,
derak yang terbakar, dia tak diam
du du du du du du du du du du du du

Dia nampak sigap bergerak di balik api
Seperti ada yang berbisik, ia tersenyum
Bila bersandar kepadaNya
terasa ada tangan yang terulur
Bibirnya yang kering serentak membasah
Tangannya yang jantan tak kenal diam

Bertanya kepadaNya, “Mesti apalagi?”
Semua telah dikerjakan tak ada yang tertinggal
Geladak makin terbenam, ho harapan belum pudar
Masih ada yang ditunggu mukjizat dariNya
Atau bila segalanya harus selesai
Pasrah terserah kepadaNya

Dia nampak duduk terpekur tengah berdoa
Ia hadirkan semua putranya, ia pamitan
Tanggung jawab yang ia junjung dan rasa kemanusiaan
ia telah bersumpah selamatkan semua
ia rela berkorban jiwa dan raga
du du du du du du du du du du du du

Di tengah badai pusaran air tegak bendera
Ia t’lah gugur begitu jantan, ia pahlawan
Pengorbanannya patut dikenang, jasa-jasanya pantas dicatat
Taburkanlah kembang di atas kuburnya
Berbelasungkawa bagi pahlawan

Sumber: Tampomas II




16 komentar:

Linus Tua mengatakan...

Apa kabar, Bro? semoga baik-baik aja.
tadi malam kompi Linus matikan lebih awal sekitar j.11, ngantuk. tapi ga tau knapa kayak ada yang nyuru bangun. rupanya ada postingan Tampomas II. :)
ibu yang terjun ke laut sama bayinya kebetulan teman ibu linus. kalau tidak salah suami tante Irma itu tidak bisa berenang.
cerita getir,Bro.
kalau semua korban bertutur, mungkin ada ratusan cerita getir. tapi kebanyakan trauma, atau dilarang berbicara pada waktu itu.


Tak ada yang dapat disentuh hukum selain kru kapal:
1-Nakoda A. Rivai dan
2-Mualim III Sudjito karena mereka meninggaldunia dalam musibah tersebut, Mahkamah Pelayaran menyatakan menghapuskan segala tuntutan.
3-Mualim I M. Ali Hamzah, 41 tahun, dinyatakan bersalah karena cuti tanpa seizin Pelni. MP mencabut ijazah mualim yang dimilikinya serta wewenangnya untuk berlayar sebagai Mualim I pada kapal yang melayari perairan Indonesia selama 6 bulan.
4-Mualim II Erns Marthing, 42 tahun, yang dinyatakan bersalah karena dianggap melakukan desersi (meninggalkan kapal tanpa izin nakoda) dicabut ijazahnya selama 12 bulan.
5-Kepala Kamar Mesin H. Dedy Hariyadi, 50 tahun yang tidak berada di kamar mesin tatkala musibah terjadi dan mematikan mesin tanpa perintah nakoda, dicabut ijazahnya selama 4 bulan.
6-Markonis I Tadjus Buky, 30 tahun, yang juga cuti tanpa izin dicabut ijazahnya selama 4 bulan.
7-Markonis II Odang Kustinar, 30 tahun, dijatuhi hukuman yang lebih berat: dicabut ijazahnya selama 12 bulan. Ia dinyatakan bersalah karena memberi laporan yang tidak benar dalam sidang. dia pernah menyatakan sudah berhasil mengadakan hubungan radio dengan stasiun radio pantai Singapura. Namun pihak Singapura kemudian membantah.

==Nice Posting, Bro!==

Penghuni 60 mengatakan...

busyeeet deh, sereem ya liat tenggelam kyk gitu, jd inget titanic..

BTW,sepertinya saya butuh pendapatmu dipostingan saya yg terbaru sob, ini tentang misteri terungkapnya keberadaan enigma? kamu pasti tau kan enigma?

Haryadi Be mengatakan...

Bro E?

Oh dia pernah mmpir kok...emang dia kenapa2?

Tepokjidat!!

Yana mengatakan...

saya jadi inget guru saya pernah cerita ttg Tampomas. Katanya mereka yang tidak berani terjun spt dipanggang hidup2 diatas kapal yang sepenuhnya terbuat dari besi. injek sana panas, injek sini panas. kebanyakan memilih terjun walaupun kemungkinan bisa tetap hidup juga gak jelas..
*ngeri*

Haryadi Be mengatakan...

Sebuah buku berwarna putih dengan judul Tragedi 1981 Tenggelamnya Tampomas II yang saya baca ketika SD kiga mengisahkan hal yang sama.

Tragis sekali.

Anggi Nasution mengatakan...

Salam Hormat Untuk Bpk Kapt. Abdul Rivai

Anggi Nasution mengatakan...

Salam Hormat Buat Bpk. Kapt. Abdul Rivai

wise_new mengatakan...

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, smg Allah menempatkan mereka pada derajat yang tinggi di sisiNya, amin.......

ALI TAUFIK , mengatakan...

SANGAT HEROIK,,MERINDING SAYA MEMBACA CERITA INI ,,SEMOGA BELIAU MENDAPAT TEMPAT YG LAYAK DISISINYA

su trimo mengatakan...

contoh nyata seorang pemimpin, lebih mementingkan orang banyak, diatas kepentingan pribadi, walaupun itu mengancam jiwanya. saya mendoakan semoga tuhan yang maha kuasa menempatka beliau sang presiden tampomas II bpk ABDUL RIVAI. ditempat layak disisinya. Amin...

su trimo mengatakan...

terharu, kok ada pemimpin yang lebih mementingkan orang banyak ketimbang dirinya sendiri. semoga allah mengangkat derajatnya sang presiden TAMPOMAS II bapak kapt ABDUL RIVAI. amin.

Ardiansah Bhungs mengatakan...

Saya pernah membaca bukunya...sampai saya berniat untuk memberi nama anak saya sama dengan Nahkoda KM. Tampomas. Sungguh kisah sedih, haru dan heroik tercampur aduk.

Doa saya untuk semua korban Tampomas II...

eko sudibyo mengatakan...

mengenang masa itu mungkin menharukan, tp saya dengar kabar wktu dah dewasa, sekitar 14th kemudian dan ebetulan waktu kapal tengelam saya baru lahir :)

glenn steve mengatakan...

kebetulan sekali ,saya tinggal di AIP akademi ilmu pelayaran pada saat itu dan captain Rivai juga lulusan AIP sama dgn kakak saya dan foto2nya waktu disemayamkan diAIP sebelum dibawa kepemakaman ada di saya ok tks AIP/PLAP DAN STIP LIHAT PROFILE SAYA DI FB

Haryadi Be mengatakan...

Terima kasih, senang sekali jika bisa menambahkan foto2 beliau di postingan ini..salam

saidina mengatakan...

numpang share...habis dengerin lagu bang iwan.....

Poskan Komentar

Share