Rabu, 28 November 2012

Lakon Duka Pemulung di Belantara Jakarta

Berikut adalah sumber tulisan kisah haru pada postingan "Kisah Pemulung Dengan Gerobak Mayat Anaknya" dari Tabloid Nova pada artikel Peristiwa dengan "Judul Lakon Duka Pemulung di Belantara Jakarta". Sengaja saya posting untuk sekedar untuk mematahkan opini beberapa blogger yang mengatakan cerita ini adalah Hoax belaka, terlalu di dramatisir, tidak sinkron bla blaa blaaa dll.

SEHARIAN JASAD SI BUNGSU DIGENDONG KE MANA-MANA

Sungguh malang nasib tunawisma yang jadi pemulung ini. Ketika si bungsu yang berusia tiga tahun meninggal, bapak dua anak ini kebingungan menguburkan jasadnya. Ketiadaan biaya membuatnya harus menggendong mayat anaknya mencari tempat pemakaman.

Pekan silam menjadi hari yang paling buruk dalam perjalanan hidup Supriono (42), pemulung asal Solok, Sumatera Barat yang hidup menggelandang di Jakarta sejak 1999. Si bungsu dari dua bersaudara, Khairunisa (3) mendadak jatuh sakit. "Ia selalu memuntahkan makanannya dan mengeluh pusing," kata Supriono.

Supriono sempat membawa Khairunisa, sapaan anaknya, berobat ke Puskesmas Setia Budi, Jakarta Selatan. "Dokter mengatakan Khairunisa mengalami muntaber dan diberi obat berupa sirup dan tablet. Saya bayar Rp 4.000."

Usai ke Puskesmas, Supriono "pulang" ke tempat ia biasa istirahat di bawah jembatan rel kereta api, kawasan Cikini. Untuk menahan dingin malam, Supriono membaringkan si kecil Khairunisa di gerobak, tempat ia biasa menaruh hasil memulung. Di sanalah Supriono mencoba merawat anaknya.

"Obat dokter sudah saya kasihkan. Namun, sampai obatnya habis, sakitnya tidak sembuh juga. Saya kasih makan nasi dimuntahkan. Lalu, saya kasih bubur ayam juga dimuntahkan," kata Supriyono dengan mata menerawang.

Tidak mau perut anaknya kosong, Supriono menggantinya dengan biskuit yang dicelupkan air. Maksudnya agar lebih lunak dan mudah dicerna. "Namun, belum habis dua potong, Khairunisa kembali muntah. Hingga Minggu malam, kondisi Khairunisa semakin lemah, namun dia bisa tidur."

Saat azan Subuh, Senin (6/6) lanjut Supriono, anaknya bangun dan minta minum. "Saya perhatikan fisiknya semakin lemah saja, sehingga saya memilih tidak memulung hari itu. Saya putuskan untuk menjaga dia. Sekitar jam 07.00, saya perhatikan sorot matanya semakin suram dan mukanya semakin pucat."

Supriono semakin panik dan mencoba membangunkan buah hatinya itu. Namun, Khairunisa terbaring tenang, tak ada reaksi apa-apa. Supriono pun paham, anaknya sudah menghadap Yang Kuasa. Ia hanya bisa menangis menatap jasad anaknya di gerobak itu. Di tengah duka yang merajam, ia tidak tahu di mana jasad anaknya dimakamkan. Ia sama sekali tidak punya sanak saudara di Jakarta.

"Saat itu situasi di Cikini sudah mulai ramai, tetapi tidak seorang pun saya kenal untuk dimintai tolong. Lalu, saya teringat teman saya Dasmin yang tinggal di Kampung Kramat, Bogor, Jawa Barat. Saya berniat minta tolong agar jenazah Khairunisa dimakamkan di sana. Saya yakin dia mau menolong."

TERTAHAN DI KANTOR POLISI
 
Sungguh tragis, Supriono membawa jasad anaknya di gerobak itu menuju Stasiun Tebet. Kakak Khairunisa, Muriski Saleh (7) dengan langkah kecil mengikuti dari belakang. Sambil menunggu kereta datang, Supriono menutupi wajah Khairunisa dengan kaus, sedangkan kaki yang sudah mulai kaku itu dibiarkan saja terbuka.

Begitu kereta datang, Supriono menggendong jenazah Khairunisa dan bermaksud naik ke dalam gerbong. Tiba-tiba seorang pedagang teh botol mencegat Supriono. "Pak, anaknya sudah meninggal, ya," ujar Supriono menirukan pedagang teh botol. "Saya membenarkan dan mau saya bawa ke Bogor. Di antara orang yang mengerumuni saya, ada yang minta agar saya ke kantor polisi. Saya setuju saja. Kebetulan letak kantor polisi tidak jauh dari Stasiun Tebet."

Sementara Supriono menunggu pemeriksaan di Mapolsek Tebet, jenazah Khairunisa dititipkan di Puskesmas Tebet yang bangunannya bersebelahan dengan Polsek Tebet. "Saya tertahan di sana selama 6 jam hanya untuk menunggu datangnya petugas reserse yang melakukan pemeriksaan. Saya jengkel karena harus buru-buru menguburkan je nazah Khairunisa."

Supriono semakin tidak sabar karena petugas mengatakan, jenazah Khairunisa harus dibawa ke RSCM . Polisi juga sudah memesan mobil jenazah yang akan membawa jasad Khairunisa menuju RSCM. "Sore hari datang mobil ambulans. Sampai di RSCM, saya masih harus menunggu. Lalu, petugas minta agar jenazah Khairunisa diotopsi. Saya keberatan karena kematian anak saya sudah jelas karena sakit muntaber," papar Supriono.

Oleh petugas, Supriono diminta menandatangani surat penolakan otopsi. "Surat itu langsung saya tandatangani. Petugas kamar jenazah menanyakan, apakah saya membawa pulang Khairunisa dengan mobil ambulans atau membawa sendiri. Saya mengatakan enggak punya uang, makanya akan saya bawa sendiri."

Keluar dari RSCM, matahari sudah hampir tenggelam. Kembali dengan mata basah Supriono kebingungan mau dibawa ke mana anak bungsunya. "Saya pikir kalau ke Bogor sudah terlalu sore. Lalu, saya ingat Ibu Sri, pemilik kos di Jl. Manggarai Utara VI. Dulu tahun 2003, saya pernah tinggal di sana."


DUA MALAM DI TERMINAL 

Di saku kumal Supriono tersisa uang hanya Rp 6 ribu. Ia pun menumpang bajaj dengan ongkos
Rp 5 ribu. "Beruntung Bu Sri ada di rumah. Seandainya beliau tidak ada, saya tidak tahu harus ke mana lagi. Saya cerita pada Bu Sri, Khairunisa yang saya gendong sebenarnya sudah meninggal. Saya minta tolong untuk dikuburkan," cerita Supriono.

Sri memanggil tetangga. Solidaritas warga membuat Supriono terharu. Mereka gotong royong untuk memandikan, memberi kain kafan, lalu menguburkan jenazah keesokan harinya di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Biaya pemakaman sebesar Rp 600 ribu ditanggung warga. "Saya hanya bisa berterima kasih kepada warga," katanya yang sementara waktu istirahat di rumah Sri.

Kisah miris Supriono ini kebetulan ditulis oleh wartawan. Tulisan itu langsung mendapat tanggapan dari warga. Supriono menerima banyak simpati dari warga masyarakat. Tidak sedikit pula yang mengirimkan uang dan menawarkan pekerjaan kepadanya. "Sungguh saya berterima kasih. Rencananya, uang dari para penolong akan saya pakai buat modal jualan mi ayam seperti yang saya lakukan di Solok."

Supriono mengisahkan, meski lahir di Solok, ia sebenarnya berdarah Jawa. Kakeknya yang berasal dari Muntilan, Jawa Tengah, transmigrasi ke Sumatera Barat, tepatnya di Desa Bunung Talang, Solok. Ia menikah dengan Suriem tahun 1996. "Di kampung saya jualan mi ayam, tapi hasilnya pas-pasan. Makanya saya ingin memperbaiki nasib dengan merantau ke Jakarta." 
Tahun 1999, Supriono memboyong istri dan Muriski yang masih bayi, untuk mengadu nasib di Ibu Kota. "Saya ingin bekerja apa saja, pokoknya halal. Berbekal uang Rp 100 ribu kami berangkat. Untuk naik bus butuh biaya Rp 80 ribu. Jadi, pertama kali datang ke Jakarta, saya hanya pegang uang Rp 20 ribu," tambahnya.

Sebenarnya, Supriono tidak punya tujuan yang jelas karena tidak punya famili atau kerabat di Jakarta. Mereka pun sempat bertahan selama dua malam di terminal bus Rawamangun. Tak menemukan jalan untuk bekerja yang lebih baik, akhirnya ia bergabung dengan para gelandangan. "Saat itu biasanya kami tidur di Jalan Balap Sepeda, Rawamangun."

BELI GEROBAK BEKAS

Mulailah Supriono dan istrinya menjadi pemulung. Berbekal karung di tangan, ia menyusuri jalan di kawasan Pulogadung, Pulomas, hingga Jatinegara. "Persaingan di antara pemulung cukup ketat. Makanya saya dan istri harus bangun pagi agar memperoleh hasil memulung yang lebih banyak. Kalau tidak begitu, sudah keduluan orang dan saya tidak dapat bagian," ujarnya.

Hampir setahun bekerja, Supriono mampu membeli sebuah gerobak bekas seharga Rp 60.000, untuk menunjang pekerjaannya. Dengan gerobak, Supriono mulai merambah wilayah Salemba, Menteng, Tebet, Pramuka, hingga Senen. Ia menjual hasil memulung di kawasan Rawamangun. Namun, sejak tahun 2002, ia menemukan lapak pembeli hasil memulung dengan harga lebih tinggi di Manggarai.

"Harga jual kardus di Manggarai Rp 600 per kilo, sedangkan di tempat lain Rp 400 ­ Rp 500. Plastik bisa dihargai Rp 4.000 per kilo, padahal di tempat lain antara Rp1.200 ­ 1.500. Saya juga pindah tempat dan tinggal di perkampungan kaum pemulung di kawasan Reang di Manggarai. Di sana kami mengontrak rumah kardus. Harga sewa Rp 50 ribu per bulan,"
jelas Supriono.

Di tempat ini pula Supriono mendapat momongan baru yang diberi nama Khairunisa. Setelah anak kedua lahir, Supriono merasakan beban hidupnya semakin berat. Ia memutuskan keluar dari kawasan Reang dan kembali menggelandang dengan pangkalan tetap di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

"Hidup seperti ini tidak pernah tenang karena sewaktu-waktu bisa digaruk petugas trantib. Makanya saya selalu mencari tempat yang aman untuk tidur di malam hari. Biasanya di samping rumah orang," tambahnya.

Tahun 2004, Supriono tinggal di rumah Sri dengan sewa kamar Rp 100 ribu per bulan. "Sebulan di sana rumah tangga kami berantakan. Istri saya memilih pulang ke Sumatera. Sampai sekarang, kami belum resmi cerai," papar Supriono yang merawat dua anaknya.
Sejak itu, tidak ada lagi yang menjaga kedua anaknya, sehingga Supriono selalu membawa kedua buah hatinya bekerja. Demi menghemat uang, ia juga tidak lagi tinggal di rumah Sri. Ia memilih pangkalan tetap di kawasan Cikini, hingga muntaber merenggut nyawa anaknya.

Supriono mengaku hasil memulung sebesar Rp 20.000­ Rp 25.000 per hari, hanya cukup untuk makan sehari-hari. "Meskipun penghasilan saya tidak menentu, kedua anak saya selalu makan teratur, tiga kali sehari. Hanya saja tidurnya memang tidak senyaman kalau di rumah."

Lantas apa harapan Supriono sekarang? "Sambil usaha, saya mau menyekolahkan Muriski. Saya, sih, ingin jual mi ayam seperti dulu. Satu lagi keinginan saya, pemerintah memberikan tempat khusus untuk menampung para tunawisma. Masih banyak warga yang belum punya ru-mah. Mau berobat pun enggak punya uang. Kondisi ini bukan maunya kita, kan," tambahnya.

DITOLONG WARGA

Sama sekali Sri Suwarni (40) tidak pernah menduga, Supriono datang ke rumahnya sambil menggendong anaknya. "Ketika dia datang mau minta tolong, saya siap-siap mau belanja ke pasar. Semula saya pikir, Supriono mau pinjam uang untuk ongkos ke Bogor. Saya serahkan Rp 50 ribu, tapi ditolak."

Namun, Supriono tetap minta tolong. "Dia cerita, anaknya sudah meninggal. Saya langsung lemas. Saya merasa terenyuh melihat nasibnya. Saya harus menolongnya. Jenazah dibaringkan di rumah, kemudian saya menemui Pak Kirman, Ketua RT 08 RW01. Malam itu juga, warga bergotong royong mengurus jenazah. Biayanya kami peroleh dari hasil urunan warga," ujar pedagang bakso keliling ini.

Sri berinisiatif mengadakan acara tahlilan sampai ketujuh harinya yang dihadiri oleh warga Manggarai Utara. Solidaritas warga, terbukti masih ada di Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share